Pages

Subscribe:

Senin, 26 Maret 2012

PUPUK TGH JIMON MENINGKATKAN HASIL PANEN SAMPAI BERKALI-KALILIPAT


TGH Jimon

Pupuk organik TGH Jimon adalah pupuk yang dikembangkan melalui riset lebih dari 20 tahun di Indonesia.
• Tahun 1985
Riset isolasi dan analisis potensi mikroba tanah dari bumi indonesia. Pada tahap ini diambil sample mikroba dari berbagai daerah nusantara, terutama dari daerah yang dianggap subur, untuk diuji coba. Sampai saat ini riset ini tetap berjalan untuk terus meningkatkan mutu produk.
• Tahun 1986 s.d. sekarang
Uji potensi mikroba unggul yang telah terseleksi di laboraturium. Dari berbagai mikroba yang terkumpul diadakan uji coba, mikroba mana yang paling baik, di antara mikroba yang lain.
• Tahun 1996
Dari berbagai uji coba akhirnya terpilih beberapa mikroba unggul yang dikemas dalam sebuah teknologi Agricultural Growth Promotion lnoculant (AGPI) — formula campuran yang bermanfaat untuk meningkatkan hasil pertanian. (Artinya setelah 9 tahun sejak dimulainya penelitian, baru ditemukan mikroba paling unggul yang baik untuk meningkatkan hasil pertanian)
• Tahun 1997
Uji lapangan di sentra pertanian Jawa Tengah, Jawa Timur dan Jawa Barat (Uji lab saja masih bersifat teori sehingga perlu pembuktian di lapangan).
• Tahun 1998
Uji praktis dan evaluasi oleh petani (Pada akhirnya yang paling obyektif menilai baik atau tidaknya penemuan tersebut adalah petani, karena mereka yang langsung merasakan manfaat atau dampaknya. Dari uji lapangan setahun terbukti petani merasakan manfaat yang signifikan dari Pupuk teknologi AGPI ini.
• Tahun 1998
Di produksi oleh PT SMS Indoputra dan mulai dipasarkan di Indonesia. Setelah terbukti di laboraturium dan teruji di lapangan, maka produk ini dinyatakan sudah layak untuk dipasarkan. (Butuh 13 tahun penelitian untuk memutuskan produk ini layak masuk pasaran).
• Tahun 2008
Perusahaan Direct Selling mulai melirik potensi pupuk ini, dan PT SMS Indoputra berkerja-sama dengan beberapa perusahaan Direct Selling, dimana produk ini berkembang pesat di seluruh Nusantara.
• Tahun 2011
Pengalaman 2-3 tahun berkerja-sama dengan beberapa perusahaan Direct Selling mematangkan pengalaman PT.SMS Indoputra ini dalam memasarkan produknya. Tahun 2011 ini, PT SMS Indoputra akhirnya menetapkan pemasaran produk pupuk organik TGH ini melalui perusahaan yang berkonsep herbal dan produk alam yaitu PT.JIMON WORLD INDONESIA. Sekarang, dengan pangsa pasar seluruh nusantara yang sudah mengenal dan mencintai produk ini, ditambah penyempurnaan produk pupuk organik TGH ini, akan mempermudah Anda untuk menyebar-luaskan konsep pupuk bersahabat dengan alam ini, dan sekaligus memungkinkan Anda untuk meraih kesejahteraan bersama kami di PT.Jimon World Indonesia.
APLIKASI TANAMAN PADI

Gambar diatas menunjukkan perbedaan padi yang menggunakan pupuk dengan cara biasa (kiri) dan padi yang menggunakan 50% (setengahnya) pupuk biasa dan ditambah dengan aplikasi TGH JIMON (kanan).
Apa Keuntungan menanam padi dengan menggunakan pupuk organik TGH Jimon?
Ada banyak keuntungan yang digunakan jika menggunakan The Great Harvest (TGH) Jimon di antaranya:
• Hemat pupuk (kimia,kompos/kandang) sampai 50%.
Pupuk kimia sekarang sudah didapat dan kalaupuan ada, harganya mahal, jadi penghematan pupuk kimia hingga 50% bukan hanya akan menjadi penghematan uang tetapi juga mempermudah petani melanjutkan usaha tani. Setahun bisa 3-4x panen !
• Gulma (tanaman liar berkurang).
Padi lebih cepat tumbuh, daun lebih cepat tinggi, sehingga pertumbuhan gulma (rumput liar) terhambat akibat sinar matahari terhalang padi yang tumbuh cepat. Selain itu karena sifatnya dekomposer, maka sisa jerami akan lebih cepat hancur dan menekan tumbuhnya gulma di sawah.
• Lebih tahan terhadap hama penyakit.
Tanaman lebih tinggi, batang dan daun lebih kokoh dan sedikit daun yang layu dan kering sehingga walaupun padi sudah tinggi namun sinar matahari masih sampai ke dasar (karena tidak tertutupi daun yang kering), dank arena lahan lebih bersih dan akan mengurangi hama tikus.
• Anakan lebih banyak.
Dengan TGH JIMON, batang lebih besar, bisa 1,5 kali lebih besar,anaknya lebih banyak bisa mencapai 35-40 anakan,dan daunnya lebih rimbun. Tanpa TGH, batang lebih kecil, anakan hanya mencapai 18s/d24 dan daun lebih sedikit.
• Panen lebih cepat
Padi yang ditanam dengan TGH biasanya lebih cepat seminggu atau 10 hari, karena itu anda harus siapkan pengusir burung lebih cepat dari biasanya saat anda belum menggunakan TGH.
Panen lebih cepat juga bisa dipanen sebelum hama tikus datang.
• Bulir lebih berisi(bernas).
Lebih sedikit gabah yang kosong, dan jumlah bulir padi lebih banyak.
• Beras lebih tahan lama dan tidak menguning.
• Mutu dan peningkatan hasil gabah kering panen menjadi lebih baik.
• Ramah lingkungan dan tidak meninggalkan Residu Pestisda.
• Tanah semakin lama semakin subur.

02. Bagai mana aplikasi TGH Jimon pada saat pembibitan?
Rendam benih semalam sebelum penyemaian dengan larutan TGH Jimon secukupnya. Satu tutup TGH Jimon (kemasan 1 L) dilarutkan dalam satu liter air.
03. Bagaimana aplikasi TGH Jimon pada saat penanaman?
Tiga hari sebelum penanaman bibit padi, siram/semprotkan TGH Jimon pada lahan sawah.
Pada tahap ini dibutuhkan 2 botol TGH Jimon yang dicampur dengan 200 L air bersih.
Biasanya sebelum ditanam, lahan diolah terlebih dahulu dengan cara di bajak atau di cangkul.
Apabila pada proses ini menggunakan pupuk kandang / kimia maka tetap gunakan pupuk seperti biasa, hanya dosis bisa dikurangi hingga 50%.
Penggunaan pupuk kimia / kandang bisa dilakukan pagi hari, dan sorenya bisa disiram TGH Jimon ini. Artinya pemakaian pupuk kandang / kimia ini harus dilakukan 1 hari sebelum tanam.
04. Bagaimana aplikasi TGH Jimon pada tanaman padi bila dikombinasikan dengan pupuk kimia?
• Aplikasi TGH Jimon ke-1
3 hari sebelum penanaman bibit padi ,siram/semprotkan larutan TGH pada lahan sawah. Pada tahap ini dibutuhkan 2 botol TGH yang dicampur dengan 200 L air bersih.
• Aplikasi pupuk kimia ke-1
15 Hari setelah tanam beri pupuk kimia, pengunaannya mengacu seperti pemakaian biasa, di sesuaikan dengan anjuran yang diajukan PPL (Peugas Peyulu Lapangan) setempat, hanya saja dosisnya dikurangi 50%.
• Aplikasi pupuk kimia ke-2.
45 hari setelah tanam, berikan pupuk kimia sesuai penggunaan yang diajukan pihak PPL hanya saja dosisnya dikurangi 50%.
• Aplikasi TGH Jimon ke-2 (Terakhir).
Saat bunting padi, biasanya air sawah lebih sedikit, Berikan 3 botol TGH Jimon dicampur dengan 400 L air.
Dikarenakan tanaman padi sudah lebat usahakan sprayer dibuka lebih besar agar larutan semprotan bisa jatuh sampai kepermukaan.
Jadi CUKUP 2x APLIKASI, ini akan lebih menghemat waktu dan uang Anda !

Aplikasi pada tanaman cabai

Aplikasi TGH pada Tanaman cabai
Cabai atau cabe merah atau lombok (bahasa Jawa) adalah buah dan tumbuhan anggota genus Capsicum. Buahnya dapat digolongkan sebagai sayuran maupun bumbu, tergantung bagaimana digunakan. Sebagai bumbu, buah cabai yang pedas sangat populer di Asia Tenggara sebagai penguat rasa makanan. Bagi seni masakan Padang, cabai bahkan dianggap sebagai “bahan makanan pokok” kesepuluh (alih-alih sembilan). Sangat sulit bagi masakan Padang dibuat tanpa cabai.
Manfaat
Cabai merah Besar (Capsicum annuum L.) merupakan salah satu jenis sayuran yang memilki nilai ekonomi yang tinggi. Cabai mengandung berbagai macam senyawa yang berguna bagi kesehatan manusia.  Sun et al. (2007) melaporkan cabai mengandung antioksidan yang berfungsi untuk menjaga tubuh dari serangan radikal bebas. Kandungan terbesar antioksidan ini adalah pada cabai hijau. Cabai juga mengandung Lasparaginase dan Capsaicin yang berperan sebagai zat anti kanker (Kilham 2006; Bano & Sivaramakrishnan 1980). Cabai (Capsicum annum L) merupakan salah satu komoditas sayuran yang banyak dibudidayakan oleh petani di Indonesia karena memiliki harga jual yang tinggi dan memiliki beberapa manfaat kesehatan yang salah satunya adalah zat capsaicin yang berfungsi dalam mengendalikan penyakit kanker. Selain itu kandungan vitamin C yang cukup tinggi pada cabai dapat memenuhi kebutuhan harian setiap orang, namun harus di konsumsi secukupnya untuk menghindari nyeri lambung.
Cara penanaman
Cabai atau lombok termasuk dalam suku terong-terongan (solanaceae) dan merupakan tanaman yang mudah ditanam di dataran rendah ataupun di dataran tinggi. Tanaman cabai banyak mengandung vitamin A dan vitamin C serta mengandung minyak atsiri capsaicin, yang menyebabkan rasa pedas dan memberikan kehangatan panas bila digunakan untuk rempah-rempah (bumbu dapur). Cabai dapat ditanam dengan mudah sehingga bisa dipakai untuk kebutuhan sehari-hari tanpa harus membelinya di pasar. Tanaman cabe cocok ditanam pada tanah yang kaya humus, gembur dan sarang serta tidak tergenang air; pH tanah yang ideal sekitar 5 – 6. Waktu tanam yang baik untuk lahan kering adalah pada akhir musim hujan (Maret – April). Untuk memperoleh harga cabe yang tinggi, bisa juga dilakukan pada bulan Oktober dan panen pada bulan Desember, walaupun ada risiko kegagalan. Tanaman cabai diperbanyak melalui biji yang ditanam dari tanaman yang sehat serta bebas dari hama dan penyakit . Buah cabe yang telah diseleksi untuk bibit dijemur hingga kering. Kalau panasnya cukup dalam lima hari telah kering kemudian baru diambil bijinya: Untuk areal satu hektardibutuhkan sekitar 2-3 kg buah cabe (300-500 gr biji).
Teknis Budidaya menggunakan TGH Jimon
1.   Kebutuhan perhektar tanaman 5 s/d 6 liter TGH per musim tanam.
2.   Larutkan 2-3 liter TGH dengan 50 s/d 100 liter air.
3.   Sekali aplikasi dibutuhkan 2-3 liter TGH untuk 1 hektar tanaman.
4.   Penyemprotan 1-2 kali aplikasi:
               Aplikasi 1 : Pada saat tanaman/kecambah umur 7-10 hari.
               Aplikasi 2 : Pada saat tanaman umur 40-50 hari.

Cara penanaman cabai :
1. Persemaian:
-     Persemaian dibuat dalam bedengan yang diberi  naungan.
-     Benih ditanam dalam lubang semai pada bedengan atau dalam polibag semai.
-     Tanah persemaian ditaburi furadan.
-     Bibit dapat dipindah ke lapang setelah 17-21 hss.

2.  Persiapan Lahan:
-        Pengolahan dengan traktor atau cangkul, gulma  dibersihkan.
-        Buat bedengan dengan lebar 110-120 cm, tinggi  30-40 cm, jarak antar bedeng 60-80 cm,  panjang bedeng disesuaikan menurut panjang lahan.
-        Pemupukan dan pemasangan mulsa.

3. Penanaman dan Pemupukan
-     Penanaman sebaiknya pagi hari atau sore hari.
-    Jarak tanam adalah: 60 x 60 cm atau 60 x 70  cm
-    Pupuk susulan diberikan 2 minggu setelah tanam.

4. Pemeliharaan:
-     Penyiraman
-     Pemasangan ajir
-     Pengikatan
-     Pewiwilan
-     Penyiangan
-     Pengendalian hama dan penyakit.

5. Panen:
-     Cabe dapat dipanen setelah berumur 85 hari  setelah pindah tanam.
-     Dapat dipanen 15 -17 kali dengan selang waktu 5 hari.
-     Buah dipetik setelah bewarna merah merata  (untuk industri), ± 90 % (untuk pasar bebas).
-     Hasil panen mencapai 1.2 kg per tanaman.

Hasil dari penggunaan pupuk TGH Jimon pada tanaman cabai :
  1. Hasil lebih cepat dan banyak.
  2. Panen pertama hingga panen ke 14-17 ukuran buah masih sama besar. Artinya kebutuhan makanan tercukupi.
  3. Ukuran buah relatif  sama.
  4. Lebih hemat dalam penggunaan pupuk konvensional hingga 40-50%.
  5. Tanah lebih gembur dan subur, dibuktikan dengan banyaknya cacing kembali ke dalam tanah.
Aplikasi ini juga bisa digunakan ke tanaman tomat, ubi, singkong dan umbi lainnya.


 Tomat menggunakan pupuk TGH Jimon

Aplikasi pada Kelapa Sawit

Aplikasi TGH Jimon pada Kelapa Sawit
Kelapa sawit (Elaeis) adalah tumbuhan industri penting penghasil minyak masak, minyak industri, maupun bahan bakar (biodiesel).Perkebunannya menghasilkan keuntungan besar sehingga banyak hutan dan perkebunan lama dikonversi menjadi perkebunan kelapa sawit. Indonesia adalah penghasil minyak kelapa sawit terbesar di dunia. Di Indonesia penyebarannya di daerah Aceh, pantai timur Sumatera, Jawa, dan Sulawesi.

Pemerian botani


African Oil Palm (Elaeis guineensis)
Kelapa sawit berbentuk pohon. Tingginya dapat mencapai 24 meter. Akar serabut tanaman kelapa sawit mengarah ke bawah dan samping. Selain itu juga terdapat beberapa akar napas yang tumbuh mengarah ke samping atas untuk mendapatkan tambahan aerasi.
Seperti jenis palma lainnya, daunnya tersusun majemuk menyirip.Daun berwarna hijau tua dan pelepah berwarna sedikit lebih muda. Penampilannya agak mirip dengan tanaman salak, hanya saja dengan duri yang tidak terlalu keras dan tajam. Batang tanaman diselimuti bekas pelepah hingga umur 12 tahun. Setelah umur 12 tahun pelapah yang mengering akan terlepas sehingga penampilan menjadi mirip dengan kelapa.
Bunga jantan dan betina terpisah namun berada pada satu pohon (monoecious diclin) dan memiliki waktu pematangan berbeda sehingga sangat jarang terjadi penyerbukan sendiri. Bunga jantan memiliki bentuk lancip dan panjang sementara bunga betina terlihat lebih besar dan mekar.
Tanaman sawit dengan tipe cangkang pisifera bersifat female steril sehingga sangat jarang menghasilkan tandan buah dan dalam produksi benih unggul digunakan sebagai tetua jantan.
Buah sawit mempunyai warna bervariasi dari hitam, ungu, hingga merah tergantung bibit yang digunakan. Buah bergerombol dalam tandan yang muncul dari tiap pelapah. Minyak dihasilkan oleh buah. Kandungan minyak bertambah sesuai kematangan buah. Setelah melewati fase matang, kandungan asam lemak bebas (FFA, free fatty acid) akan meningkat dan buah akan rontok dengan sendirinya.
Buah terdiri dari tiga lapisan:
  • Eksoskarp, bagian kulit buah berwarna kemerahan dan licin.
  • Mesoskarp, serabut buah
  • Endoskarp, cangkang pelindung inti
Inti sawit (kernel, yang sebetul]]nya adalah biji) merupakan endosperma dan embrio dengan kandungan minyak inti berkualitas tinggi.
Kelapa sawit berkembang biak dengan cara generatif. Buah sawit matang pada kondisi tertentu embrionya akan berkecambah menghasilkan tunas (plumula) dan bakal akar (radikula).

Syarat hidup

Habitat aslinya adalah daerah semak belukar. Sawit dapat tumbuh dengan baik di daerah tropis (15° LU – 15° LS). Tanaman ini tumbuh sempurna di ketinggian 0-500 m dari permukaan laut dengan kelembaban 80-90%. Sawit membutuhkan iklim dengan curah hujan stabil, 2000-2500 mm setahun, yaitu daerah yang tidak tergenang air saat hujan dan tidak kekeringan saat kemarau. Pola curah hujan tahunan memengaruhi perilaku pembungaan dan produksi buah sawit.

Tipe kelapa sawit

Kelapa sawit yang dibudidayakan terdiri dari dua jenis: E. guineensis dan E. oleifera. Jenis pertama yang terluas dibudidayakan orang. dari kedua species kelapa sawit ini memiliki keunggulan masing-masing. E. guineensis memiliki produksi yang sangat tinggi dan E. oleifera memiliki tinggi tanaman yang rendah. banyak orang sedang menyilangkan kedua species ini untuk mendapatkan species yang tinggi produksi dan gampang dipanen. E. oleifera sekarang mulai dibudidayakan pula untuk menambah keanekaragaman sumber daya genetik.
Penangkar seringkali melihat tipe kelapa sawit berdasarkan ketebalan cangkang, yang terdiri dari
  • Dura,
  • Pisifera, dan
  • Tenera.
Dura merupakan sawit yang buahnya memiliki cangkang tebal sehingga dianggap memperpendek umur mesin pengolah namun biasanya tandan buahnya besar-besar dan kandungan minyak per tandannya berkisar 18%. Pisifera buahnya tidak memiliki cangkang, sehingga tidak memiliki inti (kernel) yang menghasilkan minyak ekonomis dan bunga betinanya steril sehingga sangat jarang menghasilkan buah. Tenera adalah persilangan antara induk Dura dan jantan Pisifera. Jenis ini dianggap bibit unggul sebab melengkapi kekurangan masing-masing induk dengan sifat cangkang buah tipis namun bunga betinanya tetap fertil. Beberapa tenera unggul memiliki persentase daging per buahnya mencapai 90% dan kandungan minyak per tandannya dapat mencapai 28%.
Untuk pembibitan massal, sekarang digunakan teknik kultur jaringan.

Hasil tanaman

Minyak sawit digunakan sebagai bahan baku minyak makan,margarin, sabun,kosmetika, industri baja,kawat, radio,kulit dan industri farmasi. Minyak sawit dapat digunakan untuk begitu beragam peruntukannya karena keunggulan sifat yang dimilikinya yaitu tahan oksidasi dengan tekanan tinggi, mampu melarutkan bahan kimia yang tidak larut oleh bahan pelarut lainnya, mempunyai daya melapis yang tinggi dan tidak menimbulkan iritasi pada tubuh dalam bidang kosmetik.
Bagian yang paling populer untuk diolah dari kelapa sawit adalah buah. Bagian daging buah menghasilkan minyak kelapa sawit mentah yang diolah menjadi bahan baku minyak goreng dan berbagai jenis turunannya. Kelebihan minyak nabati dari sawit adalah harga yang murah, rendah kolestrol, dan memiliki kandungan karoten tinggi. Minyak sawit juga diolah menjadi bahan baku margarin.
Minyak inti menjadi bahan baku minyak alkohol dan industri kosmetika. Bunga dan buahnya berupa tandan, bercabang banyak. Buahnya kecil, bila masak berwarna merah kehitaman. Daging buahnya padat. Daging dan kulit buahnya mengandung minyak. Minyaknya itu digunakan sebagai bahanminyak goreng,sabun, dan lilin. Ampasnya dimanfaatkan untuk makanan ternak. Ampas yang disebut bungkil inti sawit  itu digunakan sebagai salah satu bahan pembuatan makanan ayam. Tempurungnya digunakan sebagai bahan bakar dan arang.
Buah diproses dengan membuat lunak bagian daging buah dengan temperatur 90 °C. Daging yang telah melunak dipaksa untuk berpisah dengan bagian inti dan cangkang dengan pressing pada mesin silinder berlubang. Daging inti dan cangkang dipisahkan dengan pemanasan dan teknik pressing. Setelah itu dialirkan ke dalam lumpur sehingga sisa cangkang akan turun ke bagian bawah lumpur.
Sisa pengolahan buah sawit sangat potensial menjadi bahan campuran makanan ternakdan difermentasikan menjadi kompos.

Mengolah Limbah Kebun dan Industri Kelapa Sawit sebagai Pakan Ternak

Luas areal lahan perkebunan kelapa sawit, potensial untuk pengembangan usaha budidaya peternakan. Sebab, sebagai agen biologis penanggulangan gulma, hingga mampu menekan jumlah biaya perawatan dan pengendalian gulma. Terlebih lagi, limbah sawit dapat diolah sebagai pakan ternak.
Pemenuhan tingginya permintaan kebutuhan pasar dalam mengkonsumsi sumber protein hewani berupa daging dan susu pada upaya peningkatan taraf kehidupan masyarakat, peningkatan jumlah populasi ternak selayaknya menjadi target pembangunan sub sector peternakan. Dan, pemeliharaan ternak secara intensif menjadi solusinya.
Kabupaten Labuhanbatu memiliki potensi sumber daya alam (SDA) yangcukup besar dalam beberapa decade terakhir. Terlebih setelah komoditi kelapa sawit menjadi tanaman primadona. Dengan luasan areal perkebunan yang ada, baik milik perusahaan milik Negara, swasta nasional dan asing ataupun milik perseorangan (rakyat), dinilai potensial jika dimanfaatkan untuk usaha pengembangan ternakruminansia. Seperti jenis ternak kerbau, lembu, sapi, domba dan kambing serta jenis rusa-an.
Budidaya ternak di areal perkebunan sawit sangat potensi. Karena, ketersediaan jumlah tanaman hijauan sebagai pakan ternak yang efektif  dalam pengendalian hama terpadu (PHT). Mampu menekan biaya penggunaan pestisida dan efisien pada penggunaan tenaga kerja.
Pendekatan ekologis holistic itu mencipta hubungan harmonis antara ternak dengan tanaman. Sehingga, gulma tumbuh dapat dikendalikan pada jenis rerumputan  leguminosa yang cocok dan bermutu pada ternak.
Akan tetapi, sebagai kendala, bila dimusim kemarau tiba mutu tanaman hijauan berkurang jumlahnya. Disebabkan, hilangnya energi dan mineral serta protein dari tanaman akibat kekurangan air. Tentu berdampak pada pertumbuhan hewan jadi terlambat dan menurunnya berat badan ternak dan persentase karkas menjadi rendah. Namun, semakin luasnya areal perkebunan kelapa sawit yang juga menghasilkan banyaknya pangkasan pelepah sawit dan dedaunan kelapa sawit, sebagai alternatifnya. Limbah/sampah areal perkebunan itu menjadi pakan untuk ternak.
Tak hanya sisa perkebunan, limbah industri pabrik kelapa sawit (PKS) juga dapat dijadikan sebagai pakan ternak. Sehingga, kelapa sawit mulai dari dedaunan, pelepah hingga perasan buah sawit, bukil inti sawit dan Lumpur sawit, seoptimal mungkin dapat diolah sebagai tambahan pada pakan ternak.
Sebagai pakan pengganti rumput, pengolahan limbah perkebunan dan industri kelapa sawit dapat dijadikan sebagai alterntif untuk penyediaan ransom, selain itu pengolahannya juga sangat sederhana.
Pelepah Segar
Kulit pelepah sawit dikupas secara manual. Bagian daging pelepah dicacah dengan ukuran diameter cacahan sekitar antara 1-4 centimeter. Dapat pula digiling mencapai ukuran yang lebih halus, kemudian diberikan kepada ternak sebagai pakan dasar. Sehingga, dapat menggantikan rumputan berkisar 50-100 persen. Untuk meningkatkan konsumsi pelepah dapat dicampur dengan bahan lainnya, seperti gula, tetea/molase, dedak dan lainnya.
Pelepah silase
Kulit pelepah dikupas secara manual. Bagian daging dicacah dengan ukuran diameter 2-4 centimeter. Cacahan pelepah segar (300-400 kilogram) dipercikkan air larutan urea (3-4 kg urea per 100 liter air) secara merata pada cacahan. Lalu, dimasukkan kedalam drum dan ditutup rapat menghasilkan hampa udara. Proses fermentasenya dilakukan selama 2-3 minggu. Kemudian dapat diberikan sebagai pakan dasar dan untuk meningkatkan konsumsi peleph juga dapat dicampur dengan pakan lainnya. Seperti, gula, tetea/molase, dedak dan lainnya.
Tujuan dari pengolahan pelepah sawit, selain mengatasi kekurangan hijauan sebagai pakan dimusim kemarau juga dapat mempergunakan sisa hasil perkebunan atau hasil ikutan perkebunan.
Semen Jilat
Suplemen semen jilat salahsatu teknologi berbentuk balok untuk dijilat ternak ruminansia. Disamping mudah memproduksinya dan lebih menguntungkan karena bahan yang dipergunakan dalam pembuatannya juga sederhana dan mudah didapatkan di pasaran. Seperti garam beryodium, semen dan ultra mineral, ember plastic sebagai cetakan serta potongan besi yang ujungnya dibengkokkan seperti huruf C sebagai tempat gantungan.
Adapun cara pembuatannya juga relative mudah. Yaitu, semen sebanyak 2,5 kg ditambah garam yodium 7 kg diaduk hingga rata. Kemudian ditambah ultra mineral sebanyak 1 kg dan diaduk hingga rata, lalu sedikit demi sedikit dicampur/tuang air hingga menjadi adonan semen.
Setelah adonan merata dengan kekentalan yang relative dapat disesuaikan, dibagi menjadi tiga bagian. Satu bagian untuk satu cetakan (cetakan ember plastic ukuran 0,5 liter air). Pertama-tama potongan besi dimasukkan dengan posisi tegak berdiri, lalu sedikit demi sedikit adonan dituang kedalam ember cetakan keseluruhan. Sehingga, berat adonan lebih kurang 3 kg perbalok. Lalu dikeringkan hingga mengeras.
Blok suplemen dapat diberikan kepada ternak selama 40 hari dengan jumlah ternak kambing atau domba sejumlah 10 ekor.
Tujuan pemberian sumplemen semen jilat adalah untuk mengurangi ternak memakan pupuk, plastic, kain dan lainnya yang sering dijumpai di lapangan pengembalaan. Kedua, menambah unsure mineral yang dibutuhkan oleh tubuh ternak. Yaitu, unsure mineral makro dan mikro.

Sejarah perkebunan kelapa sawit

Kelapa sawit didatangkan ke Indonesia oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1848. Beberapa bijinya ditanam di Kebun Raya Bogor, sementara sisa benihnya ditanam di tepi-tepi jalan sebagai tanaman hias di Deli,  Sumatera Utara pada tahun 1870-an. Pada saat yang bersamaan meningkatlah permintaan minyak nabati akibat Revolusi Industri pertengahan abad ke-19. Dari sini kemudian muncul ide membuat perkebunan kelapa sawit berdasarkan tumbuhan seleksi dari Bogor dan Deli, maka dikenallah jenis sawit “Deli Dura”.
Pada tahun 1911, kelapa sawit mulai diusahakan dan dibudidayakan secara komersial dengan perintisnya di Hindia Belanda adalah Adrien Hallet, seorang Belgia, yang lalu diikuti oleh K. Schadt. Perkebunan kelapa sawit pertama berlokasi di Pantai Timur Sumatera (Deli) dan Aceh. Luas areal perkebunan mencapai 5.123 ha. Pusat pemuliaan dan penangkaran kemudian didirikan di Marihat(terkenal sebagai Avros), Sumatera Utara dan di Rantau Panjang,Kuala Selangor,Malaya pada 1911-1912. Di Malaya, perkebunan pertama dibuka pada tahun 1917 di Ladang Tenmaran, Kuala Selangor menggunakan benih dura Deli dari Rantau Panjang. Di Afrika Barat sendiri penanaman kelapa sawit besar-besaran baru dimulai tahun 1910.
Hingga menjelang pendudukan Jepang, Hindia Belanda merupakan pemasok utama minyak sawit dunia. Semenjak pendudukan Jepang, produksi merosot hingga tinggal seperlima dari angka tahun 1940.
Usaha peningkatan pada masa Republik dilakukan dengan program Bumil (buruh-militer) yang tidak berhasil meningkatkan hasil, dan pemasok utama kemudian diambil alih Malaya (lalu Malaysia).
Baru semenjak era Orde Baru perluasan areal penanaman digalakkan, dipadukan dengan sistem PIR Perkebunan. Perluasan areal perkebunan kelapa sawit terus berlanjut akibat meningkatnya harga minyak bumi sehingga peran minyak nabati meningkat sebagai energi alternatif.
Beberapa pohon kelapa sawit yang ditanam di Kebun Botani Bogor hingga sekarang masih hidup, dengan ketinggian sekitar 12m, dan merupakan kelapa sawit tertua di Asia Tenggara yang berasal dari Afrika.
CARA MENANAM KELAPA SAWIT
CARA-CARA MENANAM KELAPA SAWIT
*  Sediakan bibit yang berasal dari main nursery pada masing-masing lubang tanam yang sudah dibuat.
*  Siramlah bibit yang ada pada polybag sehari sebelum ditanam menggunakan TGH Jimon yang telah dilarutkan  agar kelembaban tanah dan persediaan air cukup untuk bibit.
*  Keesokan hari sebelum penanaman dilakukan, pupuklah dasar lubang dengan menaburkan secara merata pupuk fosfat seperti Agrophos dan Rock Phosphate sebanyak 250 gram per lubang.
* Buatlah keratin vertical pada sisi polybag dan lepaskan polybag dari bibit dengan hati-hati, kemudian masukkan ke dalam lubang.
* Timbunlah bibit dengan tanah galian bagian atas (top soil) dengan memasukkan tanah ke sekeliling bibit secara berangsur-angsur dan padatkan dengan tangan agar bibit dapat berdiri tegak.
* Penanaman bibit harus diatur sedemikian rupa sehingga permukaan tanah polybag sama ratanya dengan permukaan lubang yang selesai ditimbun, dengan demikian bila hujan, lubang tidak akan tergenang air.
* Pemberian mulsa sekitar tempat tanam bibit sangat dianjurkan.
* Saat menanam yang tepat adalah pada awal musim hujan.
Pemeliharaan :
* Siramkan TGH pada kecambah tanaman pada umur 10-15 hari.
       (dosis 1-2 liter  untuk 300-400 bibit pohon).
* Pemupukan dilakukan  1 bulan sekali dengan dosis yang sama
Pembarisan: Barisan tanaman dibuat mengikut arah Utara-Selatan supaya pokok-pokok tanaman mendapat cahaya matahari yang maksimal.

 Aplikasi pada tanaman yang telah dewasa :

1.   Buat 4 lubang sederhana (4 arah mata angin) dengan jarak 1.5mtr dari pohon ( kedalaman  30 cm, diameter 5 cm)
2.   Larutkan 2-3 TGH dengan 100-125 liter air. Isi setiap lubang dengan 250 ml larutan pupuk.
3.    Ulangi pemupukan setiap 2 s/d 3 bulan sekali.

Panen

Kelapa sawit berbuah setelah berumur 2,5 tahun dan buahnya masak 5,5 bulan setelah penyerbukan. Suatu areal sudah dapat dipanen jika tanaman telah berumur 31 bulan, sedikitnya 60% buah telah matang panen, dari 5 pohon terdapat 1 tandan buah matang panen.
Ciri tandan matang panen adalah sedikitnya ada 5 buah yang lepas/jatuh dari tandan yang beratnya kurang dari 10 kg atau sedikitnya ada 10 buah yang lepas dari tandan yang beratnya 10 kg atau lebih. Ciri-ciri lain yang digunakan adalah apabila sebagian buah sudah membrondol (jatuh di piringan) secara alamiah dan bobot rata-rata tandan sudah mencapai 3 kg.
Kriteria panen yang diharapkan adalah bila tingkat kematangan buah sudah mencapai fraksi kematangan 1–3 dimana persentase buah luar yang jatuh sekitar 12,5 %-75 %. Ada dua jenis sistem panen, yaitu sistem giring dan sistem tetap.
 
INFO:
087885011167
081287669496

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar